Seperti Pilek

Seperti pilek.
Sebuah keadaan sakit yang sangat mengganggu diri,
dapat mengganggu orang lain pula.

Terutama bagi mereka yang membenci suara sentrap-sentrup rongga hidung,
atau terganggung dengan pemandangan lubang hidung yang kebasahan,
atau sekadar jijik dengan visual yang membuat mual.

“Hentikanlah meler-mu itu!”

Bagaimana caranya?

Aku hanya bisa berteman dengan pilekku ini.

Aku suka menggunakan tisu untuk mengeringkan hidungku,
walau tidak ramah lingkungan,
karena sampahnya menggunung di bawah bantalku.
Dan tentu mereka tidak suka dengan itu.

Ada juga orang yang suka membuang ingusnya di kamar mandi,
karena tisu membuat cuping hidungnya kering.
Dengan keras dia membuang ingusnya.
Dan tentu saja mereka tidak suka dengan itu.

Ada juga orang yang memilih tidur saja di kamar,
memberhentikan dunianya ketika pilek melanda.
Memilih untuk istirahat,
menghangatkan dada.

Menghilanglah dia dari peredaran.
Dan tentu saja mereka tidak suka dengan itu.

Menghentikan pikir,
melantunkan dzikir,
melafalkan doa,
atau
memakan pisang,
memakan cokelat,
atau
meminum air,
atau
bercerita dengan khusyuknya.

Dan tentu saja mereka tidak suka dengan itu.

Teman,

Apapun caramu berteman dengan pilekmu,
jika itu nyaman,

dan tak menambah sakit dirimu,

ketahuilah,

itu benar.

Advertisements

Kesucian Telur

Aku tidak tahu kenapa telur di toko itu dipajang bertumpuk-tumpuk dengan berbagai hiasan bulu ayam, cairan telur pecah mengering, dan satu dua belepot kotoran.

Mungkin agar pelanggan lebih memandang telur kemasan di rak seberang sebagai pilihan hygienic nan convenient nan expensive. Atau mungkin agar pelanggan yakin seyakin-yakinnya bahwa para telur itu asli adanya. Mereka keluar dari kloaka ayam-ayam negeri, berkorban tidak menetas agar kita bisa menikmatinya nanti. Sungguh para telur sangat patriotis.

Namun yang membuatku puas sore itu adalah Mbak SPG yang menawarkan dua seruput susu kotak. “Yang ini rasa coklat, ada kemasan 400 ml,” ujarnya. Sehingga aku pun girang menyambut gelas plastik di atas nampan itu, dengan penuh ketakutan. Lalu aku berjalan perlahan setelah meminumnya, menuju rak telur.

Terima kasih para ibu yang sudah meninggalkan plastik bening bekas sarung tangan daruratnya di rak tersebut. Aku terkadang memang harus mengitari rak beberapa lap putaran untuk mendapatkan telur-telur terbersih. Telur tak bernoda yang tanpa bekas serangan ranjau.

Namun lebih-lebih lagi, sore itu aku berbahagia. Aku berbahagia karena delapan butir telur yang aku bawa ke meja timbangan membuat si mesin menunjukkan angka: 0.500 kg. Sungguh bulat, sungguh sempurna seperti telur-telurku yang suci.