Hening

ada yang aneh di adzan maghrib ini
hati digempur, dilebur
sampai hancur oleh matinya nyala-nyala
sumbu yang meretih
tapi diinjak
sesak
gelap
pening
hening

Rest in Pride Ibu Patmi,
Tak tahulah aku (masih harus) jadi arsitek seperti apa setelah ini.

Pukul 18:08
Bandung, 2017

Advertisements

Ramu

kakinya gemuk, menyerap air
kukunya akar, akar yang kering kuning
kainnya sekar, Sekarjagad, peluhnya wangi,
dari lipatan selimutnya, pagi
musiknya denting-denting gelas
direndam untuk pelanggan-pelanggan
yang kehausan, lemah dan lemas
lagunya layu, halus, menghampar
ditampar; waktu
Cibaduyut-Siliwangi
selendangnya turut menari

Bandung, 2015

Tunggu

jarak antara ibu dan kata-kata tak bisa ditera. terlalu kecil, tidak kasat mata.

pun begitu, dunia berdecak kagum akan luasnya, indahnya, rimanya.
pemuda-pemudi dan bapak bersila di depan televisi menanti serupa nasi menghampiri, sekerat rebung,

segenggam jagung, seutas tali untuk berpegangan, menghadang banjir dan sedu sedan. atau menggantung leher di tiang. kami meringkuk di dalam temaram lingkaran.

kami terbangun saat ibu mengeja surat yang terbaca di telapak kakinya. bergemuruh gendang-gendang telinga seperti langkah prajurit yang berperang, akan setiap hembusan kata.

“tunggu,” ujar ibu. “hentikan pesta ini.”

Bandung, 21.05.2015

Jangan Lelah

Jangan lelah
Ibu tidak lelah bangun tiap pagi, membesarkanmu
Mungkin ibu lelah saat malam, rebah di dalam kelambu
Tirai awan tangis yang mengenangmu

Jangan lelah
Hausmu telah ia pedulikan
Tanam akarmu dalam-dalam dan sesaplah
Air dan garam dari tulang belakang
Yang menyangga tunduk dan tengadahnya
Dalam doa
Tirai awan tangis yang mengenangmu

Bandung, 2015