Rasa

Badanku rasa abu
Terkadang rasa pasir

Advertisements

Seperti Pilek

Seperti pilek.
Sebuah keadaan sakit yang sangat mengganggu diri,
dapat mengganggu orang lain pula.

Terutama bagi mereka yang membenci suara sentrap-sentrup rongga hidung,
atau terganggung dengan pemandangan lubang hidung yang kebasahan,
atau sekadar jijik dengan visual yang membuat mual.

“Hentikanlah meler-mu itu!”

Bagaimana caranya?

Aku hanya bisa berteman dengan pilekku ini.

Aku suka menggunakan tisu untuk mengeringkan hidungku,
walau tidak ramah lingkungan,
karena sampahnya menggunung di bawah bantalku.
Dan tentu mereka tidak suka dengan itu.

Ada juga orang yang suka membuang ingusnya di kamar mandi,
karena tisu membuat cuping hidungnya kering.
Dengan keras dia membuang ingusnya.
Dan tentu saja mereka tidak suka dengan itu.

Ada juga orang yang memilih tidur saja di kamar,
memberhentikan dunianya ketika pilek melanda.
Memilih untuk istirahat,
menghangatkan dada.

Menghilanglah dia dari peredaran.
Dan tentu saja mereka tidak suka dengan itu.

Menghentikan pikir,
melantunkan dzikir,
melafalkan doa,
atau
memakan pisang,
memakan cokelat,
atau
meminum air,
atau
bercerita dengan khusyuknya.

Dan tentu saja mereka tidak suka dengan itu.

Teman,

Apapun caramu berteman dengan pilekmu,
jika itu nyaman,

dan tak menambah sakit dirimu,

ketahuilah,

itu benar.

Hari Ini (Puisi dan Ilustrasi)

November 2016 yang lalu seorang teman mengunggah ilustrasi berikut dengan keterangan kutipan puisi saya (September 2013). Bertanya-tanyalah saya kepada diri sendiri ketika tidak menemukan ada di mana puisi itu. Jadilah setelah membongkar beberapa email dan percakapan, saya menemukannya. Dahulu versi Bahasa Inggris berjudul ‘Today’ pernah saya unggah di blog ini, namun saya turunkan. Inilah sepotong dari Hari Ini.

Hari Ini

Kau menakuti ketidakpastian bersamaku
Aku mengigil memikirkan ketidakpastian tanpa bersamamu

Kita menakuti hal yang berbeda
Walau kita berbagi kepastian, dengan bersama ataupun tidak
Dengan bersama atau tidak pun, kita juga berbagi ketidakpastian

Aku membenci ketidakpastian
Seperti, sepuluh butir Panadol yang bisa aku telan, dan mungkin aku akan tetap hidup, atau aku akan mati
Seperti, mungkin hari ini hujan, dan ketika hujan, mungkin akan berhenti, dan mungkin akan deras, mungkin akan tercurah, mungkin akan gerimis

Manusiawi, ketika manusia takut

Tapi di malam aku mengajakmu terbang
Aku memungut kemerdekaan dan mengikat kain menutupi mataku
Itulah mengapa aku tidak takut

Dan kita melompat dari titik tertinggi, dari barisan bukit di balik kota

September 2013

Body language

One of the meanest thing I do to my body: to let it starve
And: to let it thirst
To let it cry without knowing why

To let it lose its language
The one our tongues took so long to learn
And now I just can not decipher

What does it mean to have a fever?
What does it mean that rivers,
Rivers of salt water released from the springs of the eyes
Could be so searing on the skin of my face

Forgive me, and let us be
Let us be amazed, once more
With the words we’ve known so long

Unavoidable

My fatalistic point of view is unavoidable
I apologise for having molded that part of me
It was the only way I could had survived
Myself, my very own enemy

Sometimes, I forget
and those days will be fine
And sometimes I remember,
or someone reminds me
and still–those days will be fine too

2017

 

// A colleague was surprised reading my handwriting. “I have never thought that you have this baseline,” she said–pointing at my sentences that curve down in the middle but go slightly back up in the end. And a few moments of analysing later, in the inside I was like: yeah, that is me, I have forgotten for awhile, but I guess that is true.